Jumat, 24 Desember 2010

Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi, estetika, firmitas, utilitas dan psikologis. Arsitektur tradisional merupakan salah satu bentuk warisan budaya yang lahir dari kehidupan masyarakat tradisional itu sendiri yang berlangsung secara runtut dan revolusioner. Arsitektur rumah adat batak toba merupakan salah satu kekayaan bangsa dalam hal seni dan rancang bangun. Dalam masyarakat batak toba, rumah adat dianggap sesuatu yang sakral karena dalam pembagian dan fungsinya terdapat nilai-nilai kosmologis yang mendasarinya.

1. Arsitektur rumah adat batak merupakan bentuk nyata dari filosofi kehidupan orang batak

a. Bentuk atap yang melengkung yang pada ujung atap sebelah depan, terkadang dilekatkan tanduk kerbau, sehingga rumah tampak seperti kerbau. Punggung kerbau adalah atap yang melengkung, kaki-kaki kerbau adalah tiang-tiang pada kolong rumah.

b. Dalam pemilihan kayu pondasi, pondasi haruslah kuat, pengertian ini terangkum dalam falsafah yang mengatakan hot di ojahanna dan hal ini berhubungan dengan pengertian Batak yang berprinsip bahwa di mana tanah di pijak disitu langit jungjung. Pondasi dibuat dalam formasi segi empat dengan beberapa tiang penopang yang.

c. Untuk dinding rumah komponen pembentuk terdiri dari pandingdingan yang bobotnya berat sehingga ada ungkapan yang mengatakan ndang tartea sahalak sada pandingdingan yang maknanya sebagai isyarat perlu dijalin kerja sama dan kebersamaan dalam memikui beban berat. Pandingdingan dipersatukan dengan parhongkom dengan menggunakan hansing-hansing sebagai alat pemersatu. Dalam hal ini ada ungkapan yang mengatakan hot di batuna jala ransang di ransang-ransangna dan hansing di hansing-hansingna, yang artinya bahwa dasar dan landasan telah dibuat dan komponen lainnya juga dapat berdiri dengan kokoh. Ini dimaknai untuk menunjukkan eksistensi rumah tersebut, dan dalam kehidupan sehari-hari. Dimaknai juga bahwa setiap penghuni rumah harus selalu rangkul merangkul dan mempunyai pergaulan yang harmonis dengan tetangga.

d. Rangka bagian atas yang disebut bungkulan ditopang oleh tiang ninggor. Agar tiang niggor dapat terus berdiri tegak, ditopang oleh sitindangi, dan penopang yang letaknya berada di depan tiang ninggor dinamai sijongjongi. Dalam pemaknaannya tiang ninggor selalu disimbolkan sebagai simbol kejujuran.

e. Dibawah atap bagian depan ada yang disebut arop-arop. Merupakan simbol dari adanya pengharapan akan penghidupan yang layak.

f. Di bagian depan sebelah atas yang merupakan tempat untuk merajut ada yang menahan atap supaya tetap kokoh yaitu songsong boltok. Yang bermaknanya, seandainya ada tindakan dan pelayanan yang kurang berkenan di hati termasuk dalam hal sajian makanan kepada tamu harus dipendam dalam hati.

g. Disebelah kanan dan kiri dan membentang dari belakang ke depan ada ombis-ombis. Yang berfungsi sebagai pemersatu kekuatan bagi urur yang menahan atap yang terbuat dari ijuk sehingga tetap dalam keadaan utuh. Dalam pengertian orang Batak ombis-ombis ini dapat menyimbolkan bahwa dalam kehidupan manusia tidak ada yang sempurna dan tidak luput dari keterbatasan kemampuan, karena itu perlu untuk mendapat nasehat dan saran dari sesama manusia.

2. Dalam membangun rumah, orang batak merencanakan proses pembangunan dan pemanfaatan ruangan.

a. Sebelum mendirikan rumah lebih dulu dikumpulkan bahan-bahan bangunan yang diperlukan, atau mangarade. Bahan-bahannya antara lain tiang, tustus (pasak), pandingdingan, parhongkom, urur, ninggor, ture-ture, sijongjongi, sitindangi, songsong boltok dan ijuk sebagai bahan atap. Juga bahan untuk singa-singa, ulu paung dan sebagainya yang diperlukan.

b. Dalam membangun rumah selalu dilaksanakan dengan gotong royong yang dalam bahasa Batak toba dikenal sebagai marsirumpa suatu bentuk gotong royong tanpa pamrih.

c. Dalam membangun rumah, yang mengerjakannya adalah seorang pande (arsitek tradisional batak toba)

d. Dinding rumah batak toba dibuat melebar diatas sehingga berbentuk trapesium. Tidak terdapat lubang-lubang jendela dalam jumlah yang banyak sehingga ruangan di dalam sangat gelap. Lubang-lubang jendela hanya dibuat pada dinding-dinding barisan memanjang dari bangunan. Atap rumah mempunyai bentuk atap pelana yang lengkung dengan ujung bubungan yang tidak sama tingginya

e. Pada bagian interior dibangun lantai yang terbuat dari papan. Agar lantai tersebut kokoh dan tidak goyang maka dibuat halang papan yang disebut dengan gulang-gulang.

f. Di bagian tengah belakang dekat tungku dibuat lubang. Dan melalui lubang tersebut semua yang kotor seperti debu, pasir karena lantai disapu keluar melalui lubang tersebut.

g. Di sebelah depan dibangun ruangan kecil berbentuk panggung (mirip balkon) dan ruangan tersebut dinamai sebagai songkor. Di kala ada pesta bagi yang empunya rumah ruangan tersebut digunakan sebagai tempat pargonsi (penabuh gendang Batak) dan ada juga kalanya dapat digunakan sebagai tempat alat-alat pertanian seperti bajak dan cangkul setelah selesai bertanam padi.

h. di sebelah belakang rumah dibangun juga ruangan berbentuk panggung yang disebut pangabang, dipergunakan untuk tempat menyimpan padi.

i. Melintang di bagian tengah dibangun para-para sebagai tempat ijuk yang kegunaannya untuk menyisip atap rumah jika bocor. Dibawahnya dibuat parlabian digunakan tempat rotan dan alat-alat pertukangan seperti hortuk, baliung dan baji-baji dan lain sebagainya.



Napitupulu, S.P, 1986, Arsitektur Tradisional Daerah Sumatera Utara, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Prijotomo, J, 1977, Sejarah Arsitektur, Arsitektur Tradisional Indonesia, Fakultas Teknik Arsitektur Institut 10 Nopember, Surabaya.

Sumber Elektronik

Marpaung. R.B. “Nilai Filosofi Rumah Adat Batak.” http://bit.ly/hXzTyn Accessed 2010 Nov 29.

0 komentar:

Poskan Komentar