Selasa, 28 Desember 2010

Dalam beberapa tahun terakhir tumbuh subur paham fanatisme di setiap agama, yang memandang kitab suci secara tekstual dan memahami tuhan sebatas gambarannya sendiri (sempit), kita bisa lihat dari orang-orang yang berpikir bahwa yang tidak seagama dengannya adalah kafir/pantas di neraka/tidak mendapatkan keselamatan atau hal-hal lainnya yang terkadang sangat ekstrim, fanatisme ini timbul akibat dari ketidakadilan yang terjadi, rasa curiga yang berlebihan, paranoid dan self-inferior serta over-proud majority dan tidak disertai kemampuan intelektualnya serta spiritual yang memadai. Hal-hal ini tercermin dalam banyaknya kasus-kasus yang mengatasnamakan agama tertentu menekan kelompok/sekte atau agama lain yang minoritas, seperti kasus Ahmadiyah dan kasus pembakaran serta penyegelan gereja. Banyaknya kasus-kasus semacam ini bukan hanya membuat yang mayoritas semakin ekstrem dalam pola pikirnya namun juga hal tersebut berlaku kepada minoritas, ketika hak-hak fundamental mereka diganggu, secara tidak langsung dalam hati mereka timbul kebencian kepada penyerangnya, mereka akan mencari-cari kesalahan penyerangnya lalu menimpakan kesalahan itu kepada agama yang dianutnya lalu terjadilah pengeneralisasian. Parahnya pola pikir seperti itu malah dipelihara baik oleh agama atau organisasi keagamaan tertentu. dalam tulisan ini, saya mencoba untuk mebuka dan memberi pandangan yang lain mengenai fanatisme dalam agama kristen.


dimulai dari hal-hal sepele saya mulai berpikir untuk meragukan dan mempertanyakan.


Sebagai seorang yang lahir dalam keluarga kristen, dalam kegiatan beribadahnya berada di gereja, dan kitab bacaannya ialah alkitab/injil. Fanatisme di kristen bisa dibilang tidak terlihat dalam bentuk fisik namun tergambar dari pola pikir. Fanatisme dalam kristen terbentuk dari sebuah gerakan penginjilan yang biasa disebut kharismatik, saya akan menjelaskan bagaimana kristen yang kharismatik itu, orang kristen yang berdoa secara ekspresif dan berlebihan, dengan linagan air mata meminta ampun karena dia manusia, mengaku bersalah karena eksistensi dirinya sendiri, mengangkat tangan ketika berdoa dan pendeta/pastor yang mempunyai kekuatan ajaib, selalu mendengarkan lagu-lagu pop rohani yang liriknya berkutat pada janji keselamatan, dsb. Mungkin bagi anda hal-hal tersebut sangat aneh atau normal atau mungkin sebuah alternatif baru, itu terserah pada pribadi anda. Berdoa dengan suara yang keras dan penuh emosi bagi mereka menandakan kesungguhan dalam berdoa, membaca alkitab setiap pagi dengan pemahaman yang tekstual juga pertanda keteguhan iman, pergi ke gereja setiap hari minggu kalau bisa setiap hari adalah bentuk ketaatan bagi mereka.


pertanyaan sederhana, sangat radikal sifatnya, bentuk yang paling kritis dari meragukan.


dalam alkitab saya mencoba untuk memahami pola pikir seperti ini, kharismatik ini, dan dari penelahaan alkitab yang saya lakukan, saya menemukan beberapa hal yang kontradiktif dengan keyakinan dalam kharismatik. Matius 6 : 1-2 "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya "membaca ayat ini saya teringat dengan mereka yang berdoa sangat ekspresif mungkin agar terlihat bahwa mereka suci atau sangat bertuhan atau mungkin agar mendapat perhatian perempuan idamannya (Lol). Matius 6 : 5 - 7 "apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. “Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan." mereka mengangkat-angkat tangannya dan disertai bahasa aneh yang mereka sendiri tidak tahu artinya, terkadang juga berdoa yang panjang dan tak beressensi dan bagi saya ayat ini menunjukkan bahwa tidak perlu berdoa secara komunal . Alkitab lebih mengutamakan doa yang reflektif oleh pribadi secara individu. Dari ayat-ayat ini kita bisa ketahui betapa tidak sukanya Yesus kepada fanatis dan berlebihan, Dia lebih menyenangi sesuatu yang sederhana dan tulus.


Pola pikir mereka yang cenderung sempit dan mengotak-ngotakkan manusia menjadikan manusia lain sebagai orang yang bersalah. Menganggap bencana kepada yang berbeda sebagai musibah dan bagi yang sama sebagai cobaan. Terjebak dalam eklusivitas yang menyebabkan tumpulnya dialog dan saling pengertian. Pola pikir yang mempersempit ide tentang tuhan, pola pikir yang menuhankan lembaga dan ideologi. Sebuah rancangan kerja otak yang memandang bahwa dengan pola pikir ini saya selamat, dengan ini saya suci, dengan ini dosa saya ditebus. Pola pikir yang mengingkari hakekat dan essensi dari manusia.


mungkin dari tulisan ini, saya akan dihujani kemarahan, kesenangan, atau persahabatan atau saling pengertian. Itu tergantung dari anda yang membacanya.

0 komentar:

Poskan Komentar