Enter Block content here...


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam pharetra, tellus sit amet congue vulputate, nisi erat iaculis nibh, vitae feugiat sapien ante eget mauris.

Sabtu, 22 Juni 2013


Kejadian ini sudah terjadi beberapa minggu yang lalu tepatnya tanggal 25 mei 2013, bertepatan dengan hari raya tri-dharma waisak. Seperti 3 tahun sebelumnya, aku datang ke acara waisak dari pagi, mulai dari acara di candi mendut sampai tengah malam di candi borobudur (pelepasan lampion). Namun kali acara Waisak menjadi tidak bermakna bagi aku secara pribadi karena banyaknya tingkah para turis yang tidak sekenanya. Aku tidak akan membahas mengenai masalah candi Borobudur itu adalah rumah ibadah orang Buddha atau lokasi wisata yang diperuntukan untuk pengerukan laba oleh orang-orang yang tidak tepat, karena bagiku tempat itu adalah memang tempat ibadah dan tidak seharusnya dikotori oleh tingkah laku pengunjungnya.
Kejadian pertama adalah pada saat siang hari, ketika aku sedang sibuk melihat-lihat di sekitaran pelataran candi (tidak berani masuk candi) ada seorang biksu mendatangi bagian teratas candi untuk memberi doa kepada patung budhha disana, ketika sang biksu yang murah senyum itu melakukan ritual ada beberapa orang dibelakangku berkata “kok mereka nyembah-nyembah patung? Kan itu berhala nyembah patung” sontak otakku merasa geli dengan pernyataan tadi, msekipun jengkel dengan pernyataan tadi (apa itu hinaan atau tidak) aku hanya bergumam “you're literally too stupid to insult”. Aku hanya bisa mencerdaskan keprimitifannya dibalik balutan pakaian modern dan make-up modern melalui bayangan dipikiranku bahwa “Berhala itu apa? Berhala adalah sesuatu benda materi yang memenuhi pikiran dan bathin kita setiap waktu sehingga sanggup memalingkan kesadaran diri dari Tuhan. Dengan kata lain ; menjadi Tuhan tandingan dalam pikiran dan bathin kita. Arca adalah symbol Tuhan. Bagi penganutnya, menghormati arca adalah laku -yang memang hanya itu- yang bisa dilakukan oleh manusia dengan keterbatasannya untuk mengikatkan kesadaran diri pada Tuhan. Hasilnya : Tuhan juga yang akan selalu memenuhi pikiran dan bathin mereka. Bandingkan dengan dengan kecintaan seseorang kepada segala hal berbau duniawi, baik yang abstrak semacam jabatan, kehormatan, atau pun yang material, semacam uang dan kepemilikan bendawi lainnya. Mana diantara kedua hal itu yang sanggup memalingkan kesadaran diri dari Tuhan? Maka itulah berhala” (Dikutip dari status seorang teman di facebook). Belum lagi kejadian dimana si biksu yang sedang memberi doa kepada stupa dijepret oleh sebanyak jari-jari di tubuh dengan memanjat stupa dan mengambil posisi yang lebih tinggi (dengan rok pendeknya dan tank-top yang menggoda) Aku rasa bukti kejadian sudah beredar secara viral di Internet.
Kejadian kedua ada ketika aku dan teman saya beristirahat sejenak di taman dekat area berdoa (Taman Lumbini), ada sepasang muda-mudi yang sedang bermesraan dengan tidak biasanya, iya! Tidak biasanya karena mereka saling peluk, cipok, dan saling meraba. Wow! Menarik ini pikirku disaat suci seperti itu dan di tempat ibadah orang lain, mereka menunjukkan betapa saling mencintanya mereka, memang tidak ada yang bisa memisahkan dan menghalangi cinta mereka meski itu di tempat ibadah dan hari suci orang lain.
Kejadian ketiga adalah banyaknya kimcil-kimcil yang berkantung tebal mempunyai kamera profesional ditangannya atau tab dan ponsel semarakpon, pada saat doa dilakukan di area Lumbini dengan cahaya terang benderang yang diberikan matahari sore itu dan cahaya lampu dari sekitar, mereka dengan tenangnya men”jepret” orang-orang yang sedang berdoa dengan “flash” ya! Dengan flash kawanku! Dan ada yang menyodorkan tab-nya itu ke depan wajah objeknya dengan flash juga! Menarik! Sangat menarik!
Kejadian keempat adalah ketika semua orang ingin menunggu lampion, jumlah pengunjung tiba-tiba membludak menjadi 5 kali lipat dari tahun lalu, hanya untuk melihat lampion yang mereka lihat melalui film Arisan 2 (damn you! Whoever makes that movie!). Pada saat semua orang termasuk aku menunggu lampion, ada beberapa orang dengan brewok jaman sekarang berbincang-bincang mengenai candi borobudur, temannya berkata “hebat banget ya orang Indonesia jaman dulu bisa buat Borobudur, gimana caranya ya?” temannya yang lain yang kapasitas otaknya sama menjawab “ya pake putih telur gitu” (he’s right) lalu temannya itu bertanya lagi “putih telur doang?” dijawab “iya, Cuma putih telur doang” (fucking! smart my ass) ditanya lagi “terus batu-batunya gimana ngangkatnya? Kan gede tuh” dijawab “ya katanya pake jin-jin gitu” (benar-benar penggemar trans 7 yang satu ini) ditanya lagi (lagi! Omfg!) “emang kapan dibuat ya?” dijawab lagi dan lagi “katanya sih jaman dinasti ming waktu yang merintah sultan mataram” (well fuck me right in the ass! How on earth?!). Lalu mereka diam beberapa saat lalu pertanyaan lain muncul lagi (here we go) “tuh lampu yang di stupa atas itu darimana yak?” dijawab dengan “cerdasnya” “kan dibawah stupanya ada dibuat lampu gitu” (God, please kill me right in the fucking head) Sudah jelas ada lampu yang disorot melalui lampu sorot yang terlihat jelas jejaknya!.
Kejadian kelima adalah ketika sedang menunggu ada dua orang cewek dengan hot pant berwarna krem dan tanktop hitam (damn you’re sexy girl) saling berbincang mengenai lampion, lalu pertanyaan muncul dari salah satu temannya “tuh lampionnya, naiknya gimana ya?” temannya dengan lugas dan merasa pintar menjawab “ya elah lu masak gak tau sih, kan pake api nyalainnya, pake roket kecil kaya mercon gitu", terdiam aku sejenak mencerna segala kebodohan yang tersaji pada hari itu, bagaimana mungkin orang-orang ini bisa hidup! Dan bersikap arogan dengan kebodohannya dengan tidak menghormati ritual-ritual pada hari itu! Ah sudahlah aku tidak bisa berkata lagi dalam pikiran sekalipun tidak, karena orang-orang yang seperti inilah yang diinginkan penguasa, orang-orang yang tidak peka dan tidak cerdas dan kritis, orang yang selalu segala sesuatunya baik-baik saja, the crowded mass. Mungkin catatan ini hanya catatan kejengkelan yang ditulis dengan tata penulisan yang tidak baik bagi yang merasa tersinggung, maafkan saya karena tata cara penulisannya dan go fuck yourself!
 
 


0 komentar:

Poskan Komentar