Enter Block content here...


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam pharetra, tellus sit amet congue vulputate, nisi erat iaculis nibh, vitae feugiat sapien ante eget mauris.

Sabtu, 05 November 2011

Remember, remember. The sixth of November. The day reason and plot. I know of no excuse

Why day reason and plot. Should ever be forgot.


catatan ini bukan catatan seorang penyair atau penulis, aku tak tahu cari merangkai kata-kata dengan benar maupun tata cara penulisan yang benar.

bukannya seorang jurnalis yang mengerti caranya merangkai kalimat-kalimat menjadi kesatuan paragraf di koran-koran atau di portal berita online

bukan seorang dokumentator yang dapat mendokumentasikan sejarah dan kejadian dengan sangat detil

hanya seorang manusia biasa yang tulisannya tidak dapat dinikmati sebagai karya sastra, novel, berita, ataupun dokumentasi

hanya saja aku merasa punya maksud terdalam untuk menjawab ataupun tidak dikepalaku ini, melalui tulisan yang sangat sederhana ini


lahir pada saat itu, dua puluh satu tahun yang lalu dari cinta kedua sejoli itu yang sedang mabuk cinta, apa pada saat itu sedang mabuk sesungguhnya itu urusan mereka, yang pasti lahirlah anak ini

seorang anak laki-laki yang penuh rasa manusiawi dan sering menyangkalnya, datang dari mana dia? dari rahimkah? dari sel telurkah? atau dari roh kudus seperti cerita-cerita itu?

tidak, dia datang dari dia sendiri

aku tak ingat bagaimana dia, pada saat lahir namun yang aku lihat dari sorot matanya adalah seorang yang akan penuh pencarian

aku ingat dia, sewaktu taman kanak-kanak, semua orang memanggilnya "si bodoh", sebutan apa itu!, kejamnya

namun apa daya, dia memang anak yang tak mau diperingatkan, sungai yang dalam karena tampak dangkal dilewatinya demi mengetahui kebenaran dari asumsi inderawinya

dia selalu pulang dengan baju kotor yang melekat di tubuhnya sehabis bermain-main di sungai dekat rumahnya

selalu bersedih karena tv di rumahnya yang berwarna hitam putih, sedang teman-temannya berwarna-warni, dan dia pun sering mencuri-curi waktu untuk menonton satria baja hitam di kala sore di rumah temannya, yang dia duduk paling belakang di antara anak-anak lain untuk mencuri pandang sepintas pahlawan favoritnya

dia pernah tertabrak vespa ketika itu, lalu pingsan untuk beberapa saat dan sadar untuk selanjutnya

pindah itu katanya, karena muak dengan lingkungan yang diskriminatif padanya

namun dia masih anak kecil pada saat itu belum mengerti bahwa diskriminasi ada dimana-mana

bahwa manusia memang adalah serigala bagi dirinya sendiri dan orang lain

pikirannya terbawa ke tempat lain, yang lebih berbeda dari tempat itu

dimana dia, tertinggal dalam urusan duniawi

semua anak seumurannya tahu bermain sepeda karena dipinjamkan sepeda oleh anak di ujung jalan

namun dia tidak diberi kesempatan untuk meminjam hanya untuk belajar

seperti bankir yang tidak akan memberi kesempatan kredit bagi petani

seolah-olah dia tidak layak untuk mengetahui cara bermain sepeda

seolah-olah anak miskin yang tidak layak untuk mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan hidup yang lebih layak lagi

dia melempar senyum kepada kenistaan yang niscaya itu, namun hatinya koyak oleh ketidakmengertian

ketidakmengertian kenapa orang-orang berlaku diskriminatif padanya namun tempat ini berbeda

berbeda dengan yang sebelumnya yang beda identitasnya

namun kenapa mereka masih membedakan dirinya, ketika persamaan yang dimilikinya dengan mereka sangat banyak?

apakah manusia pada dasarnya jahat?

ibunya memberi pengertian, bahwa kalau tidak ada jahat tidak ada baik

dia akhirnya mengerti konsep keseimbangan itu, konsep yin-yang itu setelah berpikir beberapa tahun kemudian


di sekolah dia tergolong murid yang biasa saja, nilai biasa, rajin biasa, tekun biasa, dan wajah yang biasa

tergolong anak yang tidak ingin terlibat dengan kehidupan sekolah, indoktrinasi budi katanya

sekolah-pulang, sekolah-pulang, rutinitas yang membosankan

namun pikirannya tidak berada di sekolah ataupun pulang, namun nikmatnya diantaranya

tinggal di tepian pertanyaan dan kepolosan itu, namun menikmati diantaranya

sempat dia turun kelas bersama kawan dekatnya, karena kelakuannya, rambut panjang

kritiknya bukankah DIA berambut panjang juga? kenapa dengan rambut panjang

apakah semua murid harus bergaya tentara yang tinggal di daerah perbatasan itu

ketidakmengertiannya membawa pembangkangan, ketidaksukaannya membawa kenikmatan filosofis baginya

dalam setiap kesempatan di bulan desember, dia tidak pernah terpilih untuk unjuk gigi dalam acara desemberan

dimana setiap kelas berpartisipasi dalam lomba menari dengan iringan lagu rohani menjemukan itu

bukan karena tidak bisa namun karena wajah biasanya itu

layaknya boyband korea sekarang mereka menari di atas panggung murni dimana budi menjadi tuannya


ketika itu baru saja dia berganti seragam dari merah yang katanya revolusionis ke biru yang lebih demokratis

namun dia tidak melihat ide itu tampak disana, aturan-aturan kaku, guru yang kaku, buku yang kaku, dan hari yang kaku

terselip diantara kuku-kuku sistem pendidikan berbasis industrialisasi yang menghamba kepada profit

wajah kaku, otak yang kaku, dan jiwa yang kaku tempaan pandai ilmu di bengkel pendidikan

kelas-kelas berbaris seperti koridor-koridor tanpa batas seperti di film Matrix dan membosankan


angka di lengan kanannya bertambah dari satu ke dua

semua orang tampak seperti Jackie Chan disini, mereka berbicara bahasa yang tak dimengerti olehnya

bingung, layaknya tentara Jepang yang bingung dengan kode Navajo tentara Amerika di Perang Pasifik

namun dia mendapati beberapa dari mereka berbahasa seperti bahasa yang sering digunakan oleh saudara di kampung

dia pun belajar bahasa ibunya dari mereka, akhirnya dia tertarik akan identitas kulturalnya yang dihilangkan

sistem yang meskipun berbeda tetapi tetap satu jua, yang tidak mengajarkan sama sekali

disini dia memaklumi hal-hal yang selama ini dia tidak sukai, rambut ala tentara ataupun disiplin ala moncong ak-47


dia bermain pengetahuan, ke tempat lain

kursus namanya, tempat dimana anak-anak budi belajar menjawab soal-soal demi impian menuju tingkatan yang lenih lanjut di lembaga yang lebih pretisius

diajarkan bagaimana menjadi robot, kaku dan tanpa inspirasi

hanya bagaimana lolos dari lubang prestise, dan menang di atas ketidak beruntungan orang lain

mereka menjual mimpi, ide, dan nilai kepada anak-anak itu

apa daya bisnis itu lebih menggairahkan daripada seks dengan Monica Lewinsky menurut Bill Clint"On"

teman-teman kursusnya, kali ini lebih bergairah dalam hidup optimis meskipun itu dulisional

tidak heran karena sang mentor mengajarkan demikian, hiduplah dalam mimpi katanya

meskipun mimpi itu tidak akan pernah terwujud, jadilah hamba si budi


berpindah ke daerah yang katanya kantor pusat si budi

hidup di bawah bayang-bayang yang lebih tua darinya

kesuksesannya, kepintarannya, dan kehebatannya membayanginya selama ini, namun kali ini tekanan itu lebih berat

seberat Atlas yang memangkul dunia di atas pundaknya, punya tanggung jawab untuk menanggungnya namun ingin lepas dari beban itu, dilema dihadapinya selama ini

apakah dia melakukan semua itu demi dirinya atau orang lain

dia sadar bahwa mengejar dia tidak mungkin, layaknya institusi pendidikan disini yang berusaha mengejar standard di Amerika, yang didapat hanya remahannya saja

dia kembali lagi ke waktu itu waktu dimana dia tidak bertanya, apa aku?

dimana dia tidak peduli, dimana dia masih sangat bersemangat manjadi bagian dari dunia si budi

daun-daun menguning, musim berganti, waktu yang selalu berjalan berdiam diantara lahir dan mati, seolah-olah berjalan lurus, namun kemana?


selamat mengalami siklus tahunan, semoga kali ini es itu pun mencair...

0 komentar:

Poskan Komentar