Enter Block content here...


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam pharetra, tellus sit amet congue vulputate, nisi erat iaculis nibh, vitae feugiat sapien ante eget mauris.

Sabtu, 11 September 2010
Diasumsikan suatu agama berhasil menguasai dan menghancurkan agama lainnya, yang pasti dengan cara kekerasan dan peperangan, karena begitulah cara satu-satunya agar tidak ada agama lainnya.
Hingga yang tersisa adalah salah satu agama yang ada saat ini, bisa Islam, bisa Kristen, Buddha,
Katolik atau yang lainnya.
Apakah dunia akan tentram?

Jawabannya tidak, sebab diantara agama-agama yang satu agama tersebut pasti akan terpecah dengan begitu banyak versi Tafsiran ayat, berapa banyak tafsiran kata-kata yang tidak bisa dihitung jumlahnya.

Hingga mengakibatkan satu agama tersebut akan berperang lagi, pertumpahan darah lagi, hingga akan menyisakan satu versi saja, tetapi apakah satu versi tersebut akan bisa membuat damai?.

Tidak, sebab juga akan membelah lagi keberbagai banyak tafsiran lagi seperti semula, dan akhirnya perang lagi, tanpa henti, hingga semua manusia akan musnah karena hal ghaib ini.

Jadi solusinya bukanlah satu agama yang ada dibumi, tetapi justru hilangkan agama, sebab agama adalah hal ghaib yang cepat atau lambat akan menghancurkan manusia.

Bukankah perang tidak hanya disebabkan oleh agama?.

Benar sekali, tetapi minimal kita telah menghilangkan, salah satu sebab utama peperangan yang telah membuat banyak pertumpahan darah disejarah manusia di masa lalu maupun masa depan jika diteruskan!.

Dengan kita menghilangkan agama, kita hanya punya satu tujuan mulia, yaitu hak asasi manusia, semakin banyak yang sadar akan hak asasi manusia, maka akan semakin baik hak asasi manusia tersebut dan bila muncul pola fikir baru, maka akan semakin baik juga hak asasi manusia itu jadinya.

Hak asasi manusia berbanding lurus dengan kecerdasan manusia, berbanding lurus dengan kebijaksanaan manusia, berbanding lurus dengan teknologi yang ramah lingkungan, berbanding lurus dengan teknologi yang saling menguntungkan manusia lainnya.

Berbeda bila teknologi larinya ke pola fikir agamis, maka teknologi itu cepat atau lambat digunakan untuk menghancurkan agama lain, lalu setelah agama lain hancur, maka gilirannya menghancurkan umat-umat yang berbeda pendapat di agamanya sendiri, lalu akhirnya akan menghancurkan diri sendiri.

0 komentar:

Poskan Komentar