Kamis, 14 Januari 2010
di kedai tuak depan rumahku
tua bercengkrama dengan tua yang lain
kartu remi disusun di tangan

sambil bermain, tuak diteguk, rokok dihisap "marhisap" katanya

sambil bermain, pembicaraan pun dimulai
biasanya temanya adalah pengalaman mereka
lelucon dan banyak hal lainnya termasuk politik

kata mereka,
mereka sedih mendengar
ada gereja yang dibakar atau dirobohkan

atau tindakan rasisme dari "orang yang banyak"
terhadap "orang yang sedikit"
"kalau gusdur gak mungkin ada yg kek gt"
kata mereka

teringat memori akan presiden yang terdahulu
ya!, gusdur!!
semua mengingat akan kepepimpinannya dulu

ketika hak-hak universal dan pluralisme dijunjungnya
belum lagi celotehannya serta kritikannya yang menohok
dan sifatnya yang berani beda

ah, sudah terlalu banyak hal yang diingat dari dia
saudara kita yang china mungkin berterima kasih karena
imlek bisa mereka rayakan dengan bebas

begitu juga orang-orang yang menikmati hari libur imlek haha
yang mengikut Yesus merasa aman ketika dia berkuasa
tidak takut ada yang bakar atau melarang

kepeduliaanya terhadap orang timur juga
memperlihatkan dia tidak bisa membeda-bedakan orang dari kulitnya
oh kita telah kehilangan pahlawan kebebasan dan
pejuang keberagaman

semangatnya, determinasi, dan integritasnya untuk memperjuangkan
kesederajatan gender dan keberagaman budaya dan agama
kemampuannya mensinergikan agama dengan negara sungguh menakjubkan
seseorang yang punya selera humor yang cerdas

mungkin dia tidak dapat melihat
namun dia tidak pernah menutup mata
dan hal seperti ini lah yang dirindukan oleh tua-tua di kedai tuak itu

kita mungkin tak bisa menjadi seperti dia
namun begitu selalulah menjunjung tinggi akan kebebasan dan keberagaman
dalam hidup kita

0 komentar:

Poskan Komentar