Enter Block content here...
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam pharetra, tellus sit amet congue vulputate, nisi erat iaculis nibh, vitae feugiat sapien ante eget mauris.
I'm a modern man, a man for the millennium. Digital and smoke free. A diversified multi-cultural, post-modern deconstruction that is anatomically and ecologically incorrect. I've been up linked and downloaded, I've been inputted and outsourced, I know the upside of downsizing, I know the downside of upgrading. I'm a high-tech low-life. A cutting edge, state-of-the-art bi-coastal multi-tasker and I can give you a gigabyte in a nanosecond!
I'm new wave, but I'm old school and my inner child is outward bound. I'm a hot-wired, heat seeking, warm-hearted cool customer, voice activated and bio-degradable. I interface with my database, my database is in cyberspace, so I'm interactive, I'm hyperactive and from time to time I'm radioactive.
Behind the eight ball, ahead of the curve, ridin the wave, dodgin the bullet and pushin the envelope. I'm on-point, on-task, on-message and off drugs. I've got no need for coke and speed. I've got no urge to binge and purge. I'm in-the-moment, on-the-edge, over-the-top and under-the-radar. A high-concept, low-profile, medium-range ballistic missionary. A street-wise smart bomb. A top-gun bottom feeder. I wear power ties, I tell power lies, I take power naps and run victory laps. I'm a totally ongoing big-foot, slam-dunk, rainmaker with a pro-active outreach. A raging workaholic. A working rageaholic. Out of rehab and in denial!
I've got a personal trainer, a personal shopper, a personal assistant and a personal agenda. You can't shut me up. You can't dumb me down because I'm tireless and I'm wireless, I'm an alpha male on beta-blockers.
I'm a non-believer and an over-achiever, laid-back but fashion-forward. Up-front, down-home, low-rent, high-maintenance. Super-sized, long-lasting, high-definition, fast-acting, oven-ready and built-to-last! I'm a hands-on, foot-loose, knee-jerk head case pretty maturely post-traumatic and I've got a love-child that sends me hate mail.
But, I'm feeling, I'm caring, I'm healing, I'm sharing-- a supportive, bonding, nurturing primary care-giver. My output is down, but my income is up. I took a short position on the long bond and my revenue stream has its own cash-flow. I read junk mail, I eat junk food, I buy junk bonds and I watch trash sports! I'm gender specific, capital intensive, user-friendly and lactose intolerant.
I like rough sex. I like tough love. I use the "F" word in my emails and the software on my hard-drive is hardcore--no soft porn.
I bought a microwave at a mini-mall; I bought a mini-van at a mega-store. I eat fast-food in the slow lane. I'm toll-free, bite-sized, ready-to-wear and I come in all sizes. A fully-equipped, factory-authorized, hospital-tested, clinically-proven, scientifically- formulated medical miracle. I've been pre-wash, pre-cooked, pre-heated, pre-screened, pre-approved, pre-packaged, post-dated, freeze-dried, double-wrapped, vacuum-packed and, I have an unlimited broadband capacity.
I'm a rude dude, but I'm the real deal. Lean and mean! Cocked, locked and ready-to-rock. Rough, tough and hard to bluff. I take it slow, I go with the flow, I ride with the tide. I've got glide in my stride. Drivin and movin, sailin and spinin, jiving and groovin, wailin and winnin. I don't snooze, so I don't lose. I keep the pedal to the metal and the rubber on the road. I party hearty and lunch time is crunch time. I'm hangin in, there ain't no doubt and I'm hangin tough, over and out!"
by George Carlin
Remember, remember. The sixth of November. The day reason and plot. I know of no excuse
Why day reason and plot. Should ever be forgot.
catatan ini bukan catatan seorang penyair atau penulis, aku tak tahu cari merangkai kata-kata dengan benar maupun tata cara penulisan yang benar.
bukannya seorang jurnalis yang mengerti caranya merangkai kalimat-kalimat menjadi kesatuan paragraf di koran-koran atau di portal berita online
bukan seorang dokumentator yang dapat mendokumentasikan sejarah dan kejadian dengan sangat detil
hanya seorang manusia biasa yang tulisannya tidak dapat dinikmati sebagai karya sastra, novel, berita, ataupun dokumentasi
hanya saja aku merasa punya maksud terdalam untuk menjawab ataupun tidak dikepalaku ini, melalui tulisan yang sangat sederhana ini
lahir pada saat itu, dua puluh satu tahun yang lalu dari cinta kedua sejoli itu yang sedang mabuk cinta, apa pada saat itu sedang mabuk sesungguhnya itu urusan mereka, yang pasti lahirlah anak ini
seorang anak laki-laki yang penuh rasa manusiawi dan sering menyangkalnya, datang dari mana dia? dari rahimkah? dari sel telurkah? atau dari roh kudus seperti cerita-cerita itu?
tidak, dia datang dari dia sendiri
aku tak ingat bagaimana dia, pada saat lahir namun yang aku lihat dari sorot matanya adalah seorang yang akan penuh pencarian
aku ingat dia, sewaktu taman kanak-kanak, semua orang memanggilnya "si bodoh", sebutan apa itu!, kejamnya
namun apa daya, dia memang anak yang tak mau diperingatkan, sungai yang dalam karena tampak dangkal dilewatinya demi mengetahui kebenaran dari asumsi inderawinya
dia selalu pulang dengan baju kotor yang melekat di tubuhnya sehabis bermain-main di sungai dekat rumahnya
selalu bersedih karena tv di rumahnya yang berwarna hitam putih, sedang teman-temannya berwarna-warni, dan dia pun sering mencuri-curi waktu untuk menonton satria baja hitam di kala sore di rumah temannya, yang dia duduk paling belakang di antara anak-anak lain untuk mencuri pandang sepintas pahlawan favoritnya
dia pernah tertabrak vespa ketika itu, lalu pingsan untuk beberapa saat dan sadar untuk selanjutnya
pindah itu katanya, karena muak dengan lingkungan yang diskriminatif padanya
namun dia masih anak kecil pada saat itu belum mengerti bahwa diskriminasi ada dimana-mana
bahwa manusia memang adalah serigala bagi dirinya sendiri dan orang lain
pikirannya terbawa ke tempat lain, yang lebih berbeda dari tempat itu
dimana dia, tertinggal dalam urusan duniawi
semua anak seumurannya tahu bermain sepeda karena dipinjamkan sepeda oleh anak di ujung jalan
namun dia tidak diberi kesempatan untuk meminjam hanya untuk belajar
seperti bankir yang tidak akan memberi kesempatan kredit bagi petani
seolah-olah dia tidak layak untuk mengetahui cara bermain sepeda
seolah-olah anak miskin yang tidak layak untuk mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan hidup yang lebih layak lagi
dia melempar senyum kepada kenistaan yang niscaya itu, namun hatinya koyak oleh ketidakmengertian
ketidakmengertian kenapa orang-orang berlaku diskriminatif padanya namun tempat ini berbeda
berbeda dengan yang sebelumnya yang beda identitasnya
namun kenapa mereka masih membedakan dirinya, ketika persamaan yang dimilikinya dengan mereka sangat banyak?
apakah manusia pada dasarnya jahat?
ibunya memberi pengertian, bahwa kalau tidak ada jahat tidak ada baik
dia akhirnya mengerti konsep keseimbangan itu, konsep yin-yang itu setelah berpikir beberapa tahun kemudian
di sekolah dia tergolong murid yang biasa saja, nilai biasa, rajin biasa, tekun biasa, dan wajah yang biasa
tergolong anak yang tidak ingin terlibat dengan kehidupan sekolah, indoktrinasi budi katanya
sekolah-pulang, sekolah-pulang, rutinitas yang membosankan
namun pikirannya tidak berada di sekolah ataupun pulang, namun nikmatnya diantaranya
tinggal di tepian pertanyaan dan kepolosan itu, namun menikmati diantaranya
sempat dia turun kelas bersama kawan dekatnya, karena kelakuannya, rambut panjang
kritiknya bukankah DIA berambut panjang juga? kenapa dengan rambut panjang
apakah semua murid harus bergaya tentara yang tinggal di daerah perbatasan itu
ketidakmengertiannya membawa pembangkangan, ketidaksukaannya membawa kenikmatan filosofis baginya
dalam setiap kesempatan di bulan desember, dia tidak pernah terpilih untuk unjuk gigi dalam acara desemberan
dimana setiap kelas berpartisipasi dalam lomba menari dengan iringan lagu rohani menjemukan itu
bukan karena tidak bisa namun karena wajah biasanya itu
layaknya boyband korea sekarang mereka menari di atas panggung murni dimana budi menjadi tuannya
ketika itu baru saja dia berganti seragam dari merah yang katanya revolusionis ke biru yang lebih demokratis
namun dia tidak melihat ide itu tampak disana, aturan-aturan kaku, guru yang kaku, buku yang kaku, dan hari yang kaku
terselip diantara kuku-kuku sistem pendidikan berbasis industrialisasi yang menghamba kepada profit
wajah kaku, otak yang kaku, dan jiwa yang kaku tempaan pandai ilmu di bengkel pendidikan
kelas-kelas berbaris seperti koridor-koridor tanpa batas seperti di film Matrix dan membosankan
angka di lengan kanannya bertambah dari satu ke dua
semua orang tampak seperti Jackie Chan disini, mereka berbicara bahasa yang tak dimengerti olehnya
bingung, layaknya tentara Jepang yang bingung dengan kode Navajo tentara Amerika di Perang Pasifik
namun dia mendapati beberapa dari mereka berbahasa seperti bahasa yang sering digunakan oleh saudara di kampung
dia pun belajar bahasa ibunya dari mereka, akhirnya dia tertarik akan identitas kulturalnya yang dihilangkan
sistem yang meskipun berbeda tetapi tetap satu jua, yang tidak mengajarkan sama sekali
disini dia memaklumi hal-hal yang selama ini dia tidak sukai, rambut ala tentara ataupun disiplin ala moncong ak-47
dia bermain pengetahuan, ke tempat lain
kursus namanya, tempat dimana anak-anak budi belajar menjawab soal-soal demi impian menuju tingkatan yang lenih lanjut di lembaga yang lebih pretisius
diajarkan bagaimana menjadi robot, kaku dan tanpa inspirasi
hanya bagaimana lolos dari lubang prestise, dan menang di atas ketidak beruntungan orang lain
mereka menjual mimpi, ide, dan nilai kepada anak-anak itu
apa daya bisnis itu lebih menggairahkan daripada seks dengan Monica Lewinsky menurut Bill Clint"On"
teman-teman kursusnya, kali ini lebih bergairah dalam hidup optimis meskipun itu dulisional
tidak heran karena sang mentor mengajarkan demikian, hiduplah dalam mimpi katanya
meskipun mimpi itu tidak akan pernah terwujud, jadilah hamba si budi
berpindah ke daerah yang katanya kantor pusat si budi
hidup di bawah bayang-bayang yang lebih tua darinya
kesuksesannya, kepintarannya, dan kehebatannya membayanginya selama ini, namun kali ini tekanan itu lebih berat
seberat Atlas yang memangkul dunia di atas pundaknya, punya tanggung jawab untuk menanggungnya namun ingin lepas dari beban itu, dilema dihadapinya selama ini
apakah dia melakukan semua itu demi dirinya atau orang lain
dia sadar bahwa mengejar dia tidak mungkin, layaknya institusi pendidikan disini yang berusaha mengejar standard di Amerika, yang didapat hanya remahannya saja
dia kembali lagi ke waktu itu waktu dimana dia tidak bertanya, apa aku?
dimana dia tidak peduli, dimana dia masih sangat bersemangat manjadi bagian dari dunia si budi
daun-daun menguning, musim berganti, waktu yang selalu berjalan berdiam diantara lahir dan mati, seolah-olah berjalan lurus, namun kemana?
selamat mengalami siklus tahunan, semoga kali ini es itu pun mencair...
Beberapa hari terakhir aku mengalami gangguan kesehatan, mulai dari flu, demam, dan kepikunan. yah akhirnya keadaan fisikku dapat menyamakan persepsi dengan keadaan psikisku. Karena apa? Aku juga tidak tahu, asumsiku hanyalah bahwa saking banyaknya tuntutan akademis yang sebenarnya menciptakan perbudakan akademis struktural ditambah dengan akumulasi dari pola makan yang acak seperti konstituen yang tidak tahu siapa yang dipilihnya di pemilu mengakibatkan aku mulai merasakan kepahitan raga. Hingga ragaku tak sanggup lagi melakukan pekerjaannya seperti mencuci pakaian, dalam kepahitan semu itu, aku kembali berpikir kenapa dan apa, bukan kenapa aku seperti ini tapi kenapa aku berpikir lagi? dan Apa maksudku berpikir.
Selama hidupku aku telah banyak berhasil mengimplementasikan keadaan rasional yang dapat dicapai orang-orang seumuranku. Semua tindakan dihitung dengan kalkulasi yang tepat dengan rumus potensi - rugi - resiko - kemungkinan - dsb = tidak ada. Bagi beberapa orang keadaan rasional adalah keadaan paling terang benderang yang dapat dicapai manusia. Namun ketika kukatakan aku kembali berpikir kemana semua ini akan berakhir dan bagaimana, dalam bentuk historisnya keadaan rasionalitasku membuatku tidak mempelajari permainan gitar karena rasio mempertanyakan buat apa, apa motivasimu dan sebagainya. Keadaan itu pula yang membuatku tidak ikut les bahasa inggris di kelas 2 karena rasio mempertanyakan umurku yang masih terlalu muda untuk itu dan banyak hal lain yang membuktikan rasionalitas sering dan mungkin selalu menang. Segala sesuatu sudah diprediksi sebelumnya hingga tidak ada ketegangan dari segala ketidakmungkinan itu.
Sadar mungkin sebuah kata halus untuk keterlambatan. Aku sadar bahwa ragaku yang lemah sebagian besar mungkin bukan karena pola makan yang tidak beraturan dan keadaan lelah, well i do nothing hard with my body lately jadi kenapa sakit? Otakku bagian paling fisik yang aku tahu, mungkin karena otak ini telah bekerja terlalu lama dan berat sampai hal-hal terkecil sekalipun. Mungkin jiwaku telah marah karena aku menduakannya selama ini, dia minta sedikit kue cinta itu, dia ingin ketegangan, ketidakpastian, dan ketidakmungkinan. Dia ingin sesuatu yang tidak rasional, dia ingin aku sesekali menjadi naif dan berjalan dengan mata tertutup, katanya aku telah terlalu rasional hingga si raga marah dan menghentikan fungsinya beberapa waktu, si raga telah memberi waktu cuti bagiku seperti dekan yang menganjurkan cuti satu semester bagi mahasiswanya yang bermasalah dengan kehidupan kampus, dia menyuruhku berbuat salahlah dan jangan berpikir. Oh maaf sepertinya aku harus berhenti sampai disini karena aku harus memastikan untuk tertidur di peraduan malam ini.

Masih tak lupa hari itu, hari pertama kali masuk SMA, udara panas, polusi udara, polusi suara, macet, dan rasisme mewarnai hari pertama itu. Dimulai dari pidato gak penting oleh kepseknya yang membuat bapakku tidak jadi membelikan handphone untukku, kenalan baru di kelas baru, dan serta tamparan baru buat kenakalan baru.
hari pertama, terlihat semuanya serba biasa saja dan yah membosankan seperti awalnya, aku adalah seorang Batak dan tinggal di lingkungan Karo yang punya pendapat yang berbeda tentang teman-teman baruku ini, jadi hal pertama dikepalaku tentang orang-orang yang bermata sipit dan putih adalah rasisme tanpa alasan. Langsung memberi rasa curiga yang tidak beralasan, mungkin karena envy atau sebagainya, mungkin bisa dibandingkan dengan anti-semitik. Sebagai seorang introvert aku dengan cepat menyambar bangku paling belakang dan paling sudut dan dengan segera aku tersudutkan oleh mereka, ada lima dari mereka yang kelihatannya saling kenal dan duduk mengelilingiku, ketika mereka mulai mengobrol seperti biasa aku langsung menaruh curiga atas obrolan mereka ketika mereka mulai berbicara satu sama lain aku tidak percaya dalam hati aku berkata hollyshit ternyata mereka berbicara dengan bahasa batak. Perasaan malu dan kaget bercampur, malu karena aku saja yang orang batak tidak bisa berbahasa batak pada saat itu, kaget karena baru pertama kali aku melihat seorang china memakai bahasa batak dengan sesama china juga. Merekalah yang akhirnya mengajari aku adat dan bahasa bangsaku sendiri. Lalu ada orang ini, orang yang kelihatannya china namun tidak dapat dengan lancar berbahasa hokkien, anaknya sangat energetik, dan sangat-sangat bersahabat seperti casper the friendly ghost, lalu setelahnya aku tahu kalau dia ternyata berdarah campuran jawa-chinese, pantas saja. Esoknya ada seseorang ini yang menjadi teman sebangkuku, pure chinese tidak bisa berbahasa batak seperti kelima orang tadi, awalnya susah dan aneh berteman dengan yang satu ini namun akhirnya dia juga teman sebangkuku, anaknya agak kepedean, yah bisa dikatakan sok keren, dari dia aku banyak belajar tentang budaya orang chinese dan juga bahasa tapi lebih banyak bahasa-bahasa kotornya dan sebagai gantinya aku juga mengajarkan dia budayaku dan bahasa sukuku, yah boleh dibilang itu semacam pertukaran budaya dan tak lupa kedua orang batak yang selalu menjadi teman pulang bareng. Dengan mereka dan dua yang lainnya, yang satu ketinggian yang satu lagi matanya sangat sipit aku menjalani tahun pertamaku yang penuh kejutan dan memori, seperti ditampar bareng, menjahilin cewek-cewek kelas, dihukum bareng, membenci manusia yang sama (petrus), nembak kantin bareng, jdui bareng, dan cabut bareng.
tahun kedua dan ketiga disana aku semakin dapat berbaur dengan keadaan itu, ada beberapa orang yang tetap bertahan dengan aku dalam satu kelas, dan ada teman-teman baru, ada seorang laki-laki yang suaranya sangat cempreng, sangat berisik yah tapi memang seperti itulah dia, ada sepasang kekasih yang aneh, yah sedikit memberi nuansa yang berbeda akan romansa SMA, tambahan lima orang batak tiga cewek dua cowok, serta yang lainnya, cewek primadona kelas yang selalu jadi pusat perhatian dan kroni-kroninya, cewek yang selalu dijadikan bahan tertawaan (maafkan kami), penjual makanan yang merangkap sebagai orang yang taat aturan, dan tentunya seorang wanita chinese yang mencuri hati sang adam hahai. Dua tahun bersama mereka membuatku mengerti arti setia kawan dan persahabatan, pelajaran tersebut dapat kuambil dari kejadian seperti, sama menyembunyikan hal yang dilarang disekolah (HP), perang kertas (aku tahu siapa ini provokatornya), juga karena kelas kami selalu dikatakan kelas yang bebal yang tidak tertib dan label negatif lainnya jadi ada semacam perasaan senasib akan hal itu.
terlihat melankolis mungkin tapi inilah coretanku .
Mungkin sekolah itu bukan sekolah impianku namun dari sana aku mendapatkan pelajaran, pelajaran berharga yang tidak ada dibuku tentang persahabatan, penghargaan, penghormatan, dan kesetiakawanan.
buat teman-temanku : ingat aku karena aku mengingat kalian
Gong Xi Fa Chai!
Sebenarnya sih udah agak telat aku memposting ini, kalau tidak salah oktober 2010 yang lalu aku diberitahu kakakku mengenai album baru Lisa Ono yang Asia, siapa Lisa Ono? Lisa Ono adalah penyanyi pop jepang-brazil bossa nova, setidaknya itulah yang tertulis di Wikipedia tentang dia. Bicara mengenai musikalitas, Lisa Ono gak usah dipertanyakan lagi deh selesai mendengarkan album Asia, aku juga mendengarkan lagu-lagunya yang lain dari album yang berbeda-beda dan bisa aku katakan “mantap!”. Belum lagi fakta bahwa dia sudah berkarir aktif sejak tahun 1989, belum lagi dia telah menelurkan 35 buah album dan delapan diantaranya merupakan album kompilasi. Kembali ke lagu-lagunya di album Asia, di dalam album ini dia meremake lagu-lagu tradisional asia, terutama asia tenggara dan timur.
Track List :
1. When Will You Come Again (03:50)
2. Olu Pipala (04:15)
3. Saichon (04:36)
4. Dahil Sa Iyo (03:34)
5. Rasa Sayang (03:22)
6. Evening Primrose (04:29)
7. Arirang (03:44)
8. Vande Mataram (04:43)
9. Bengawan Solo (04:14)
10. Buuvein Duu (04:39)
Yang menarik adanya dua lagu Indonesia terselip di track-listnya yaitu bengawan solo (jawa) dan rasa saying (ambon). Yang paling menarik bagiku adalah betapa fasihnya dia berdialek Indonesia dalam menyanyikan kedua lagu tersebut. Dengan alunan bossa nova yang mendawai-dawai di lagu bengawan solo dan yang samba di lagu rasa saying, biarpun dia dengan penyanyi bossa nova namun lagu-lagu yang dibawakannya di album Asia ini tidak hilang sentuhan tradisional asianya yang mistis, tenang, joy, dan reflektif. Dan untuk kelanjutannya bagi anda pecinta musik jazz atau bossa nova dan sejenis anda mungkin menyukai Lisa Ono terutama album Asia-nya. Bauklah sampai disini tulisan ini berakhir, nikmati setiap alunan musiknya.

Sekali lagi kalenderku harus diganti, harus mencari yang angka 2011, mungkin dengan kali ini dengan gambar-gambar artis-artis hollywood kesayanganku di setiap halamannya, bulan januari natalie portman, februari lisa hannigan, maret kiera knightly dan seterusnya...perlukah pergantian ini dirayakan? dengan kembang api? dengan doa? dengan uang padahal ini hanya sebatas mengganti yang lama dengan yang baru. Mungkin saja kita butuh, anda butuh, karena kita memerlukan sebuah momentum sebuah tanda, sebuah titik awal dan akhir. Sebuah batas pemisah antara halaman satu dengan yang lainnya. sebuah penanda adanya sebuah perubahan, meskipun perubahan itu bersifat temporari, dan seremonial.
Kalender yang akan saya ganti adalah kalender dengan tanggal masehi, yang jika ditilik kebelakang adalah buatan romawi yang berdasarkan peredaran bumi terhadap matahari. Ada banyak tahun baru selain sekarang, tahun baru hijriah, tahun baru imlek, dan sebagainya, jadi ada banyak perayaan ada banyak momen buat kembang api, momen doa, momen untuk dirayakan, sebuah tanda, sebuah titik awal, sebuah batas pemisah halaman-halaman disetiap kalender itu.
Bagi beberapa orang pergantian kalender ini hanya menjadi rutinitas belaka dan dengan terpaksa dilakukan meski bagi mereka hal tersebut sangat tidak bermanfaat, menganggap kali ini hanya penambahan angka, mungkin saja angka gajinya bertambah. Ada yang merayakannya dengan gegap gempita sampai ada nyawa yang terkorban, apa mungkin buat dewa? Ada yang dengan semangat kontemplatif ingin merefleksikan apa yang sebelumnya terjadi apakah baik atau buruk, dan rencana setelah ini. well hal-hal tersebut menjadi pilihan masing-masing bagaimana memandang waktu, mungkin fisikawan memandang waktu sebagai sesuatu yang relatif dan tidak harus dirayakan atau dipersembahkan dengan nyawa, ada orang-orang yang religius yang merayakannya dengan doa dan renungan, mungkin ditambah dengan sedikit nama-nama di liang kubur.
yesterday is a history, tomorrow is a mystery, but today is a gift that is why it is called present.
Bagi saya tahun baru kali ini, sama seperti tahun-tahun berikutnya dan tahun-tahun sebelumnya, diliput besar-besaran, dirayakan mahal-mahalan, dibungkus sebaik-baiknya.Wellsetiap orang harus mempunyai momennya tersendiri dan buat saya momen itu bisa jadi esok, kemarin atau sekarang. Jadi nikmati saja momen ini dengan atau tidak dirayakan, nikmatilah dengan caramu sendiri teman.
Dalam beberapa tahun terakhir tumbuh subur paham fanatisme di setiap agama, yang memandang kitab suci secara tekstual dan memahami tuhan sebatas gambarannya sendiri (sempit), kita bisa lihat dari orang-orang yang berpikir bahwa yang tidak seagama dengannya adalah kafir/pantas di neraka/tidak mendapatkan keselamatan atau hal-hal lainnya yang terkadang sangat ekstrim, fanatisme ini timbul akibat dari ketidakadilan yang terjadi, rasa curiga yang berlebihan, paranoid dan self-inferior serta over-proud majority dan tidak disertai kemampuan intelektualnya serta spiritual yang memadai. Hal-hal ini tercermin dalam banyaknya kasus-kasus yang mengatasnamakan agama tertentu menekan kelompok/sekte atau agama lain yang minoritas, seperti kasus Ahmadiyah dan kasus pembakaran serta penyegelan gereja. Banyaknya kasus-kasus semacam ini bukan hanya membuat yang mayoritas semakin ekstrem dalam pola pikirnya namun juga hal tersebut berlaku kepada minoritas, ketika hak-hak fundamental mereka diganggu, secara tidak langsung dalam hati mereka timbul kebencian kepada penyerangnya, mereka akan mencari-cari kesalahan penyerangnya lalu menimpakan kesalahan itu kepada agama yang dianutnya lalu terjadilah pengeneralisasian. Parahnya pola pikir seperti itu malah dipelihara baik oleh agama atau organisasi keagamaan tertentu. dalam tulisan ini, saya mencoba untuk mebuka dan memberi pandangan yang lain mengenai fanatisme dalam agama kristen.
dimulai dari hal-hal sepele saya mulai berpikir untuk meragukan dan mempertanyakan.
Sebagai seorang yang lahir dalam keluarga kristen, dalam kegiatan beribadahnya berada di gereja, dan kitab bacaannya ialah alkitab/injil. Fanatisme di kristen bisa dibilang tidak terlihat dalam bentuk fisik namun tergambar dari pola pikir. Fanatisme dalam kristen terbentuk dari sebuah gerakan penginjilan yang biasa disebut kharismatik, saya akan menjelaskan bagaimana kristen yang kharismatik itu, orang kristen yang berdoa secara ekspresif dan berlebihan, dengan linagan air mata meminta ampun karena dia manusia, mengaku bersalah karena eksistensi dirinya sendiri, mengangkat tangan ketika berdoa dan pendeta/pastor yang mempunyai kekuatan ajaib, selalu mendengarkan lagu-lagu pop rohani yang liriknya berkutat pada janji keselamatan, dsb. Mungkin bagi anda hal-hal tersebut sangat aneh atau normal atau mungkin sebuah alternatif baru, itu terserah pada pribadi anda. Berdoa dengan suara yang keras dan penuh emosi bagi mereka menandakan kesungguhan dalam berdoa, membaca alkitab setiap pagi dengan pemahaman yang tekstual juga pertanda keteguhan iman, pergi ke gereja setiap hari minggu kalau bisa setiap hari adalah bentuk ketaatan bagi mereka.
pertanyaan sederhana, sangat radikal sifatnya, bentuk yang paling kritis dari meragukan.
dalam alkitab saya mencoba untuk memahami pola pikir seperti ini, kharismatik ini, dan dari penelahaan alkitab yang saya lakukan, saya menemukan beberapa hal yang kontradiktif dengan keyakinan dalam kharismatik. Matius 6 : 1-2 "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya "membaca ayat ini saya teringat dengan mereka yang berdoa sangat ekspresif mungkin agar terlihat bahwa mereka suci atau sangat bertuhan atau mungkin agar mendapat perhatian perempuan idamannya (Lol). Matius 6 : 5 - 7 "apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. “Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan." mereka mengangkat-angkat tangannya dan disertai bahasa aneh yang mereka sendiri tidak tahu artinya, terkadang juga berdoa yang panjang dan tak beressensi dan bagi saya ayat ini menunjukkan bahwa tidak perlu berdoa secara komunal . Alkitab lebih mengutamakan doa yang reflektif oleh pribadi secara individu. Dari ayat-ayat ini kita bisa ketahui betapa tidak sukanya Yesus kepada fanatis dan berlebihan, Dia lebih menyenangi sesuatu yang sederhana dan tulus.
Pola pikir mereka yang cenderung sempit dan mengotak-ngotakkan manusia menjadikan manusia lain sebagai orang yang bersalah. Menganggap bencana kepada yang berbeda sebagai musibah dan bagi yang sama sebagai cobaan. Terjebak dalam eklusivitas yang menyebabkan tumpulnya dialog dan saling pengertian. Pola pikir yang mempersempit ide tentang tuhan, pola pikir yang menuhankan lembaga dan ideologi. Sebuah rancangan kerja otak yang memandang bahwa dengan pola pikir ini saya selamat, dengan ini saya suci, dengan ini dosa saya ditebus. Pola pikir yang mengingkari hakekat dan essensi dari manusia.
mungkin dari tulisan ini, saya akan dihujani kemarahan, kesenangan, atau persahabatan atau saling pengertian. Itu tergantung dari anda yang membacanya.