Minggu, 28 Februari 2010
Manusia dalam ke-batak-an secara gender dibagi atas Baoa (pria) dan Boru atau Boru boru (wanita). Baoa sebagai penerus keturunan punya nilai lebih dari boru. Sebagai contoh jika ada pasutri yang hanya mempunyai anak perempuan maka keluarga mereka belum Gabe dan jika mereka (Pasutri) meninggal dunia maka kematian mereka diklasifikasikan sebagai Mate Rahar, walaupun anaknya yang perempuan telah memiliki keterunan.

Posisi wanita menjadi kelas dua sebab dia hanya dianggap sebagai alat reproduksi untuk meneruskanketurunan agar Tarombo (silsilah) sang suami tidak terputus, maka bila wanita hanya melahirkan perempuan, sang suami atas restu keluarga akan menikah lagi guna mendapatkan penerus (anak laki-laki). Dalam penyebutan istilah pun perempuan, selalu timpang. Sebab dalam tarombo (silsilah) wanita tidak masuk dalam hitungan. Misalnya ada seorang suami ditanya berapa anaknya, dia akan menyebutkan anak laki-lakinya saja.

0 komentar:

Poskan Komentar